ARJEN ROBBEN

Debut Arjen Robben Pemain Tercepat Timnas Belanda

Arjen Robben tidak bisa dipungkiri bahwa dia adalah salah satu winger terbaik yang pernah ada. Ditengah reputasi buruknya sebagai seorang diving atau kebiasaannya terkena cidera, Robben adalah pemain hebat dan satu-satunya pemain yang mendapat julukan speedman.

ARJEN ROBBEN STORY

Dia akan selalu dikenang sebagai salah satu pemain terbaik di generasinya, pemain yang mampu membuat back lawan kebingungan akibat kecepatan yang eksplosif dan teknik menggiring bola luar biasa. Robben adalah pemain yang mampu meraih gelar domestik di 4 liga berbeda. Dia telah meraih gelar Eredivisie bersama PSV Liga Inggris bersama Chelsea La Liga bersama Real Madrid dan Bundesliga bersama Bayern Munchen.

Akan tetapi, dibalik kesuksesannya dalam sepakbola, dia harus menempuh karir berliku dengan penuh cidera. Lantas bagaimana perjalanan karir Arjen Robben ? Mengapa dia dijuluki sebagai kaki kaca dan speedman ? Simak kisahnya Arjen Robben lahir pada 23 Januari 1984 di Bedum, Netherlands. Sejak kecil Robben sudah menaruh minat besar pada sepak bola.

Bahkan demi sepak bola, dia sering mengesampingkan urusan pendidikan. Hal ini tidak lepas dari profesi sang ayah Hanz Robben yang merupakan seorang agen sepak bola lokal. Daripada menghabiskan waktu disekolah, Robben lebih memilih mengikuti kegiatan sang ayah Menyadari hal itu, dia dimasukkan ke akademi sepak bola Bedum oleh ayahnya ketika Robben berusia 5 tahun Menariknya, Robben yang meminta kepada ayahnya untuk dimasukkan ke akademi tersebut.

Seolah-olah dia mengetahui bahwa jalan hidupnya adalah sebagai pesepak bola. Sejak kecil, dia dikenal mempunyai kecepatan lari di atas rata-rata.

Kemampuannya mengolah bola, jauh lebih baik daripada anak seusianya. Robben muda menimba ilmu di akademi tersebut mulai tahun 1989 hingga tahun 1996. Di usia 12 tahun, Robben bergabung bersama akademi sepak bola FC Groningen, yang terletak tidak jauh dari Bedum. Pemanggilan ini membuatnya semakin yakin memilih jalan hidup sebagai pesepak bola. Dia meninggalkan sekolah formal untuk fokus pada perkembangan karir sepak bolanya.

Bersama akademi ini, Robben belajar membenahi diri sebagai pesepak bola professional. Dia mempertajam keahlian mengolah bola bersama Groningen dari tahun 1996 hingga 2001. Setelah menimba ilmu di tim akademi selama 5 tahun, Robben mendapatkan promosi ke tim utama pada tahun 2001. Pada musim debutnya, Robben yang berusia 17 tahun langsung menjadi andalan Groningen di sektor sayap mengandalkan kecepatan dan dribble yang dimilikinya. Pada musim itu, dia tercatat memainkan 28 laga, mencetak 6 gol dan 3 asisst.

Bakat yang dimilikinya ini, sontak menarik klub raksasa Eradivisi PSV Eindhoven, pada musim berikutnya memboyong Robben dari Groningen dengan mahar 4.30m.

Bersama PSV, Robben mulai memenangkan beragam trofi. Robben sudah diakui sebagai pemain penuh talenta sejak menggunakan seragam hijau-putih. Namun, pencapaian terbaik bersama Groningen hanya lolos ke perempat final piala Belanda, sang winger terseret di papan bawah selama dua musim membela Groningen.

PSV menjadi klub yang mengangkat derajat Robben sebagai salah satu pemain muda yang paling diperhitungkan di dunia saat itu. Meskipun memiliki talenta besar, Robben adalah pemain yang cukup egois dan terkadang melakukan hal yang tidak perlu di usianya tersebut.

Dalam hal ini, dia patut berterima kasih kepada Guus Hiddink, pelatih yang telah memoles kekurangannya saat dia berseragam PSV. Hiddink mengakui kemampuan Robben saat muda, sang winger menjadi salah satu pemain yang diminta oleh Hiddink saat dia diberikan tawaran untuk menangani PSV pada 2002. Hiddink tidak ragu memberikan perlakuan keras kepada Robben ketika melakukan kesalahan.

Baca Juga  Andrea Pirlo Si Jenius dari Juventus

Robben adalah salah satu pemain sayap dengan bakat terbesar yang pernah saya lihat. Tetapi, kadang sikap Robben benar-benar tidak bisa diterima. Pemain muda boleh melakukan kesalahan, tetapi apa yang dia perbuat adalah hal yang tidak perlu. Jika dia ingin benar-benar mampu menghadapi back tangguh, dia butuh banyak belajar.

Robben pemain pintar, dia pasti akan banyak belajar.

kata Guus Hiddink setelah melihat Robben sering melakukan diving. Ucapan Hiddink telah terbukti menjadi kenyataan. Meski pergerakan Robben sebenarnya sesuatu yang mudah dibaca, pertahanan lawan selalu kesulitan menutup ruangnya karena kecepatan dan kecerdikan yang dimiliki Robben. Dari situ, julukan Speedman untuk Robben mulai diberikan oleh para penggemar. Satu pelajaran yang didapatkan Robben dari kepemimpinan Hiddink adalah gaya cut inside.

Sebelumnya, dia lebih banyak ditempatkan di sisi kiri sebagai winger klasik mengingat kaki kiri Robben lebih kuat. Gaya cut inside adalah gerakan pemain dari sisi lapangan untuk masuk ke area tengah. Gaya ini biasanya dilakukan oleh pemain yang kaki terkuat berbeda dengan area bermain. Dengan melakukan gaya cut inside, pemain akan mempunyai banyak opsi untuk melakukan serangan. Mereka tidak hanya bisa mengirimkan umpan silang, tetapi bisa juga melepaskan percobaan langsung ke arah gawang lawan.

Gaya ini semakin populer di era sepak bola modern. Pada musim debut bagi PSV, Robben mampu mengemas 12 gol dan 8 asisst dari 33 laga di semua kompetisi. Dia turut membantu PSV meraih juara Eredivisie serta piala Belanda musim 2002/2003. Sayangnya, pada musim berikutnya gelar itu gagal di pertahankan PSV dan produktifitas Robben sedikit menurun. Pada musim 2003/2004, dia hanya mampu mencetak 5 gol dan 9 asisst dari 23 laga.

Meskipun begitu, hal ini tidak menyurutkan minat klub besar Eropa untuk memboyong dia, Dia menjadi incaran Sir Alex Ferguson sebelum memilih Chelsea sebagai pelabuhan berikutnya. Saya bertemu Sir Alex, kami makan malam dan berbicara. Saya menikmati waktu bersamanya. Tetapi, saat saya kembali ke PSV, Manchester United belum melayangkan tawaran resmi. Ketika tawaran itu datang, jumlahnya tidak sesuai yang diharapkan PSV.

Kemudian, Chelsea datang dan saya tertarik dengan apa yang mereka tawarkan. Saya akhirnya memilih Chelsea. Juli 2004, Arjen Robben resmi mendarat di Stanford Bridge, untuk bergabung dengan raksasa liga Inggris Chelsea, diusia 20 tahun. The Blues memboyong sang winger dengan mahar 18.00m.

Kepindahan Robben membuat penggemar The Blues berharap banyak, mengingat Robben adalah salah satu talenta muda terbaik pada saat itu.

Tetapi, awal karir Robben bersama Chelsea tidak berjalan mulus setelah dia mengalami cidera ketika mengikuti pramusim bersama The Blues. Debutnya terjadi tiga bulan setelahnya, di bulan Oktober ketika Chelsea mengalahkan Blackburn dengan skor 4 0 dalam partai liga Inggris. Sedangkan gol pertama Robben terjadi ketika Chelsea menumbangkan CSKA Moskow dalam fase grup liga champion. Meski sempat cidera, pada musim pertama Robben langsung beradaptasi dengan gaya permainan arahan Jose Mourinho.

Baca Juga  Karir Super Mario Balotelli Hancur

Kecepatan dan kemampuannya beroperasi disektor sayap kanan, membuat Robben dianggap sebagai salah satu winger berbahaya di tanah Britania. Kecepatannya yang eksplosif, mungkin hanya bisa disaingi oleh Cristiano Ronaldo atau Thierry Henry di liga Inggris. Pada musim itu, Robben mampu meraih 7 gol dan 9 asisst dari 19 laga disemua kompetisi. Diakhir musim, Robben turut mengantarkan Chelsea meraih gelar liga Inggris musim 2004/2005. Gelar itu mampu dipertahankan The Blues pada musim berikutnya.

Tetapi, dimusim kedua dan ketiga, produktifitas Robben terus menurun. Hal ini tidak lain karena dia sering mengalami cidera. Sangat disayangkan, melihat bakat yang luar biasa harus ternoda oleh cidera yang sering menimpanya. Dari fakta ini, Robben mulai dijuluki Man of Glass atau seorang kaki kaca karena dia begitu rentan mendapatkan cidera.

Kasus cideranya, bukan berawal di Chelsea, tetapi sudah dimulai sejak dia membela Groningen.

Intensitas cidera Robben yang tinggi sudah ditunjukan sejak masa remaja. Hal ini disampaikan pelatih pertama Robben di tim junior Groningen, Barend Beltman, yang mengungkapkan sang pemain sudah ringkih sejak dulu. Arjen Robben, membela Chelsea selama 3 musim. Selama masa baktinya untuk klub London, The flying dutcman telah menorehkan 15 gol dan 16 asisst dari 67 laga di Inggris. Meski karirnya berjalan kurang mulus, dia beruntung karena mampu meraih 2 gelar Liga Inggris dan piala FA bersama Chelsea.

Meskipun catatannya terbilang kurang memuaskan, hal itu tidak menyurutkan minat Real Madrid untuk memboyong Robben ke Santiago Bernabeu. Agustus 2007, Robben resmi bergabung bersama Real Madrid dengan biaya transfer 35.00m Diawal kedatangannya, Robben sempat menjadi andalan meski tidak mencetak banyak gol. Setelah itu Robben kembali mengalami kesusahan menjebol gawang. Pada musim 2007/2008 dia hanya mampu mencetak 4 gol dan 3 asisst dari 26 pertandingan disemua kompetisi.

Beruntungnya Robben, dia selalu memenangkan gelar domestik dimusim pertamanya bergabung dengan klub baru. Diakhir musim Real Madrid keluar sebagai juara La Liga musim 2007/2008.

Pada musim kedua, dia tidak menunjukan perkembangan yang signifikan. Dimusim 2008/2009 Robben hanya menorehkan 8 gol dan 5 asisst dari 35 pertandingan. Hal ini membuat kebersamaannya dengan El Real hanya bertahan 2 musim.

Robben mengaku terpaksa meninggalkan Real Madrid pada 2009 karena dua alasan utama, yakni karena situasi politik di Santiago Bernabeu hingga kedatangan Cristiano Ronaldo. Pada musim panas 2009, Florentino Perez yang terpilih sebagai Presiden baru Los Blancos menjalankan proyek Los Galacticos jilid II. Saat itu tidak hanya Ronaldo yang didatangkan ke Bernabeu, namun juga Ricardo Kaka serta Karim Benzema, yang membuat kesempatan Robben menjadi penyerang utama semakin kecil.

Dua faktor itu yang membuat Robben akhirnya terpaksa hengkang. Dalam sebuah wawancara, Robben mengatakan bahwa meninggalkan Madrid merupakan pilihan yang sangat sulit.

Dia sudah sangat nyaman dan masih ingin membuat sejarah bersama klub ibu kota. Saya sebenarnya merasa sangat nyaman disana, tetapi ketika politik ikut bermain dan kalian tidak bisa tampil, kalian harus membuat keputusan apakah ingin terus berjuang atau pergi dan melanjutkan karir di tempat lain. Pelabuhan Robben berikutnya adalah Bayern Munchen. Klub yang menyelamatkan karir Robben, dan sekaligus memberikan segalanya bagi sang winger. Dia hengkang ke Alianz Arena dengan mahar 25.

Baca Juga  SAMUEL ETO'O Selalu di Hati Fans Barcelona

00m. Bersama raksasa Jerman ini, karir Arjen Robben menemui masa emasnya. Bersama Bayern Munchen, Robben tampil sangat luar biasa. Ketika itu, dengan adanya Franck Ribery menjadikan mereka duo winger yang begitu disegani di Eropa. Kemampuan Robben menyisir di sektor sayap, menusuk, mengobrak abrik pertahanan dan kemudian melakunan placing, tentu adalah ciri khas Robben yang akan selalu diingat oleh para pecinta sepak bola.

Tidak banyak pemain yang bisa melakukannya, tetapi Robben melakukannya dengan sempurna. Di Jerman, Robben tidak luput dari kebiasaan cideranya. Beragam cedera dia alami, selain cidera langganan pesepak bola seperti engkel, paha, lutut, atau sobek otot, Robben bahkan sampai mengalami cidera punggung, terkena flu berat, cidera tendon, hingga cidera betis. Cidera paling parah di Munchen adalah saat mengalami robek otot kaki, yang memaksa Robben absen selama 151 hari dan melewatkan 27 laga. Robben absen sejak 5 Agustus 2010 sampai 3 Januari 2011.

Arjen Robben adalah pemain hebat akan tetapi kakinya begitu rapuh. Jika dia tidak mudah cidera, mungkin akan ada cerita yang berbeda. Jika ditotal, menurut catatan “Transfermarkt”, Robben mengalami cidera sebanyak 58 kali sepanjang kariernya. Karena cidera, dia terkadang harus absen berhari-hari, berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan lamanya dari tim. Hebatnya, dari banyak cidera yang Robben alami, dia selalu mampu pulih dan langsung tampil memukau ketika dalam kondisi terbaiknya.

Apresiasi patut diberikan kepada tim kesehatan The Bavarian, yang selalu sabar dalam menangani cidera Robben. Baik di era Louis van Gaal, Jupp Heynckes, Pep Guardiola, hingga Carlo Ancelotti menyukai gaya bermain Robben, posisi Robben di winger kanan hampir tidak tergantikan di Munchen dalam satu dekade. Bayern Munchen menjadi klub yang paling lama dibela oleh Robben. Total ada 10 musim, Robben mengabdikan diri di Allianz Arena. Tidak tanggung-tanggung, 8 trofi Bundesliga, 5 DFB Pokal, 5 Piala Super Jerman, serta 1 trofi liga champion yang sukses Robben persembahkan untuk raksasa Jerman.

Catatan Robben bersama klub tersebut bisa dibilang sangat baik. Arjen Robben telah membukukan 144 gol dan 101 assist dari 309 penampilan di semua kompetisi bersama Munchen. Luar biasa ! Setelah itu Robben sempat memutuskan gantung sepatu pada tahun 2019, tetapi Robben berubah pikiran dan kembali ke Groningen setahun kemudian. klub di mana Robben telah memulai karirnya.

Robben pensiun pada usia 37 tahun diakhir musim 2020/2021. Setelah 1 musim lebih sering mengalami cidera dibandingkan bermain. Sedangkan karirnya bersama timnas Belanda, bisa dibilang cukup baik meski tidak sempurna. Dia turut membantu tim Orange meraih peringkat ketiga Piala Dunia 2014 dan menjadi runner-up Piala Dunia 2010, setelah takluk dari Spanyol di final. Arjen Robben mampu mengoleksi 37 gol dari 96 pertandingan, yang membuatnya bertengger di posisi 4 pencetak gol terbanyak sepanjang masa timnas Belanda.

Demikianlah kisah Arjen Robben, pemain yang akan selalu dikenang sebagai salah satu pemain terbaik di generasinya. The Speedman, winger yang membuat back lawan kelimpungan akibat kecepatan yang eksplosif dan teknik menggiring bola istimewa. Terima kasih Arjen Robben.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *