Midfilder Madrid

Trio Midfielder Casemiro Kroos & Modric yang Mengerikan

Ketika FC Barcelona sedang sangat terpuruk, dan Atletico Madrid tengah berjalan ke arah kemerosotan, Real Madrid tidak. Los Galacticos masih tetap konsisten menjadi tim yang garang lagi perkasa. Diam-diam Real Madrid bahkan mampu merangsek ke pucuk klasemen La Liga. Tak seperti Blaugrana, pergantian pelatih di kubu Real Madrid tidak mempengaruhi apa-apa. Ancelotti yang menggantikan Zinedine Zidane justru seolah membuat performa Los Merengues jauh dari kata terpuruk.

Midfilder Madrid

Terutama para pemain andalan mereka yang menjadi mesin penggerak tim. Mesin itu salah satunya ada dalam diri trio lini tengah mereka: Casemiro, Toni Kroos dan Luka Modric. Peran mereka pun sampai di era sekarang makin tak tergantikan. Walaupun ketiganya bukan pada usia yang masih muda. pertanyaanya, mau sampai kapan trio ini bertahan?

Apa yang membuat mereka begitu ganas di lini tengah El Real? Toni Kroos, Luka Modric, dan Casemiro pertama kali memulai debut sebagai trio pada pertandingan tanggal 4 Oktober 2015. Ketika itu Real Madrid mengunjungi stadion Vicente Calderon dalam Derby Madrid pertama yang dipimpin oleh Rafael Benitez. Laga itu berakhir imbang 1-1.

Trio Casemiro-Kroos-Modric tidak serta-merta bergabung secara bersamaan ketika itu.

Modric lebih dulu datang di Bernabeu pada tahun 2012 ketika dia masih berduet dengan Xabi Alonso. Kemudian Toni Kroos datang dari Bayern Munchen pada tahun 2014. Kedatangan Kroos di Madrid diiringi kepindahan Xabi Alonso ke Bayern. Modric dan Kroos pun berduet sejak itu. Yang terakhir pada 2015 datanglah seorang Casemiro, gelandang bertahan yang kembali ke Bernabeu setelah sempat bermain bagi Madrid pada 2013, namun dipinjamkan ke Porto.

Tahun awal debut trio tersebut memang tidak terlalu mentereng. Di bawah Benitez, trio ini sempat dirombak beberapa kali. Sampai dengan kedatangan Zinedine Zidane yang menggantikan Benitez pada waktu itu. Trio Casemiro-Kroos-Modric dibawah Zidane juga awalnya tidak berjalan dengan lancar.

Baca Juga  Akhir Musim Yang Buruk Untuk Madrid

Skema pemilihan taktik Zidane menjadi adaptasi tersendiri bagi mereka ketika itu.

Taktik Zidane di Real madrid pada awal musim 2015/2016 mengadaptasi pakem 4-3-3 atau bisa jadi 4-2-3-1 dengan trio gelandang dan trio lini serang. Sorotan ketika itu ada pada trio lini depan mereka yakni BBC (Bale, Benzema dan Cristiano Ronaldo). Sementara, trio lini tengah mereka jarang mendapat sorotan, walaupun jika menilik peran trio gelandang Madrid ketika itu, pos itulah yang sebenarnya vital dan menjadi kunci permainan Zidane ketika membangun serangan.

Bermain simpel dengan sirkulasi bola cepat serta pressing tinggi mampu dilakukan trio gelandang itu dengan efektif. Format 3 gelandang Zidane tentu berbeda fungsi antara satu dengan yang lainya.

Casemiro sering difungsikan sebagai gelandang bertahan pelindung center back/back four. keberadaan dia bertugas menjaga kedalaman dan mengcover area Modric di sisi kanan dan Kroos di sisi kiri. Jarak Casemiro dengan Kroos dan Modric selalu dekat. Hal ini diperlukan untuk cover posisi Kroos dan Modric, sehingga Kroos dan Modric bisa masuk ke posisi di mana dia bisa beroperasi tanpa banyak tekanan dari lawan. Toni Kroos yang berada di sisi kiri bagian tengah sering melebar menutup celah flank dan membuat triangle ketika menyerang bersama bek kiri dan sayap kiri.

Daya jelajah Kroos mencakup hampir seluruh lapangan untuk meminta bola baik itu ke kanan maupun ke belakang. Kroos bisa dibilang memainkan peran nomor 8 untuk Real Madrid. Dengan atau tanpa Luka Modric, umpan progresifnya tidak terbatas, baik itu umpan vertikal ke sayap kiri atau bek kiri. Kroos dimanfaatkan Zidane dan Ancelotti untuk mencari kelebihan di sebelah kiri dan mengalihkan permainan secara cepat ke tengah maupun kanan. Kroos juga dimanfaatkan untuk mencari ruang kosong lawan bersama Modric.

Baca Juga  Taktik Mematikan Pep Guardiola

Di sisi lain, saat Modric menutupi sisi kanan lini tengah, ia juga adalah target untuk umpan dari Kroos.

Kroos dan Modric adalah duo metronom yang sangat cair dalam permainan. Ketika menyerang aliran umpan dari ketiga trio gelandang Madrid sering mampu diselesaikan dengan baik oleh trio yang memiliki kecepatan dan finishing yang baik di depan. Ketika bertahan trio gelandang Madrid sering jemput bola ketika di pressing lawan, tidak terlalu lama pegang bola, serta akurasi umpan mereka bertiga ampuh untuk skema counter attack setelah bertahan. Taktik sesimpel itu yang dilakukan Zidane.

Dengan memanfaatkan skill individu dan intelegensi mereka bertiga membuat mesin Madrid selalu berjalan mulus. Sampai akhirnya berbuah berbagai gelar di La Liga maupun tiga kali berturut turut di Liga Champions, empat kali Piala Dunia Antarklub FIFA dan tiga Piala Super UEFA. Umumnya, ketika trio ini berada di lapangan pada saat yang bersamaan, para bek, winger dan striker madrid tidak perlu cemas aliran bola tidak berjalan. Mereka memiliki koordinasi yang baik dalam permainan. Bahkan, Kroos Modric Casemiro sering dijuluki sebagai trio gelandang terbaik di dunia abad ini.

Kehilangan salah satu dari trio gelandang tersebut mungkin berdampak pada kurangnya performa. Meskipun menang dalam pertandingan, tapi ketergantungan itu akan kentara.

Silih berganti peran trio itu di backup oleh Kovacic, Odegaard, Isco, hingga kini Camavinga. Ketika era sepeninggal Zidane dan beralih pada Lopetegui dan Solari, peran trio Casemiro-Kroos-Modric tidak seefektif ketika di bawah Zidane. Lopetegui dan Solari sama-sama tidak bisa memanfaatkan skill individu trio tersebut ke dalam racikan taktiknya.

Hasilnya pun buruk, Real Madrid bahkan selalu gagal masuk babak teratas Liga Champions, ketika pada 2018 digugurkan oleh Ajax, dan di 2019 digugurkan oleh Manchester City. sampai pada kembalinya zidane pada musim 2019/2020 Zidane kembali menghidupkan peran trio gelandang Real Madrid yang sempat menurun.

Baca Juga  Sir Abramovich Beli 6 Pemain Termahal

Zidane tetap memakai kekuatan pada poros tiga gelandang dan tiga penyerang. Performa dan mental para pemain Real Madrid seketika meningkat dan berbuah kekonsistenan dan keefektifan dalam bermain. Hasilnya, mereka mampu meraih kembali gelar La Liga.

Namun nasib berbeda dialami Madrid ketika itu di Liga Champions. Mereka terhenti di babak semifinal oleh Chelsea. Trio Modric-Casemiro-Kroos ketika itu tak sanggup melawan kedigdayaan gelandang Chelsea seperti Kante, Jorginho, dan Kovacic. Muncul keraguan setelah hasil minor tersebut. Trio ini dianggap sudah habis begitu pula Zidane dengan format tiga gelandangnya.

Benar saja, Zidane tak lama setelah itu meninggalkan Madrid dan digantikan oleh Carlo Ancelotti yang dipanggil kembali melatih Real madrid. Melihat Real Madrid era Ancelotti seketika flashback di musim ketika Ancelotti sukses merengkuh titel La Decima Real Madrid.

Format tiga gelandang dan tiga penyerang masih dipertahankan Ancelotti meskipun sesekali Ancelotti memakai format 4-4-2. Pakem formasi Ancelotti di Madrid kali ini tetap berfokus pada trio Casemiro, Modric dan Kroos, sesekali diganti oleh Camavinga, Isco maupun Valverde. Penambahan muka baru seperti Alaba, dan mulai moncernya Vinicius membuat tugas trio Casemiro, Modric dan Kroos semakin tertolong.

Nampaknya kepiawaian dan pengalaman serta mental Ancelotti yang diterapkan pada setiap pemainya membuat kapasitas skill individu pemain dapat meningkat. Trio Casemiro, Kroos, Modric di era baru Ancelotti seperti hidup kembali. Tidak terlihat mereka seperti pemain yang sudah berumur dan habis. Meskipun di dalam permainan faktor umur juga tidak bisa bohong. Bukan tidak mungkin trio gelandang Madrid itu akan merengkuh banyak Prestasi tahun ini.

Akan tetapi regenerasi di tubuh Madrid harus sudah siap, mempersiapkan ketika trio itu sudah tidak berjalan, atau salah satunya ada yang pindah atau bahkan pensiun..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *